Agustus 2025 menandai puncak bersejarah bagi streetwear urban, dengan data Google Trends menunjukkan minat pencarian melonjak 100% hingga mencapai nilai normalisasi maksimum—sinyal jelas bahwa genre ini telah berkembang melampaui akar subkultural untuk mendominasi fashion arus utama. Tren yang mendefinisikan tahun ini? Fusi sempurna antara kenyamanan sepanjang hari, estetika retro, dan keberlanjutan tanpa kompromi, didorong oleh konsumen Gen Z yang menolak mengorbankan nilai demi gaya.
Nostalgia menjadi sorotan utama pada 2025, namun bukan sekadar meniru masa lalu. Para merek mengadopsi filosofi "tampilan lama, inti baru", menghidupkan kembali siluet ikonik dengan inovasi abad ke-21. Mantel model tombol tanduk ala 1980-an, kemeja kotak-kotak ala 1990-an, dan sweter rajut kabel ala 1970-an muncul kembali, namun kini dilengkapi elemen pemanas pintar atau kain yang bisa memperbaiki diri. Kemeja rugby uniseks dari Fear of God, yang terinspirasi pakaian atletik era 90-an, dibuat dengan potongan yang cocok untuk semua tubuh serta dilapisi bahan graphene pengatur suhu. Sementara itu, kolaborasi Palace dengan Gucci membayangkan ulang demam logo ala 2000-an menggunakan tinta berbasis air dan campuran poliester daur ulang, membuktikan bahwa gaya retro dapat terasa segar dan bertanggung jawab.
Kenyamanan telah ditingkatkan dari sekadar bonus menjadi keharusan, dengan teknologi yang menghilangkan batas antara "gaya vs. kepraktisan". Jaket-jaket Carhartt WIP, yang menjadi ciri khas busana jalanan, kini terbuat dari 50% botol plastik daur ulang, 38% jaring ikan bekas, dan 12% kapas organik—mengurangi berat hingga 22% sambil mempertahankan ketahanan. Rompi berbahan graphene dari label baru Scuffers hanya seberat 28 gram, dapat dilipat lebih kecil dari ponsel pintar, namun menawarkan tiga pengaturan suhu yang dikendalikan melalui aplikasi. "Kami tidak hanya membuat pakaian—kami menciptakan solusi untuk kehidupan urban," kata pendiri Scuffers, Maya Chen, yang demo rompinya di TikTok telah ditonton sebanyak 3,4 miliar kali.
Keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon pemasaran, melainkan keharusan untuk bertahan. Penelitian menunjukkan bahwa 70% konsumen Generasi Z akan meninggalkan merek yang tidak transparan secara ekologis. Para pelaku industri terkemuka merespons: koleksi terbaru Supreme menampilkan hoodie berbahan serat rumput laut SEACELL yang menghambat pertumbuhan bakteri, sementara Nude Project bermitra dengan pengrajin lokal untuk memproduksi koleksi terbatas menggunakan wol bersertifikasi RWS. Bahkan bisnis barang bekas kini telah menggunakan teknologi tinggi—platform kini menggunakan AI untuk mengautentikasi produk vintage, dengan 47% pembeli global memprioritaskan merek yang berasal dari dalam negeri.
Seperti yang ditunjukkan oleh gaya jalanan di London Fashion Week, seragam tahun 2025 menyeimbangkan kerinduan akan masa lalu dan inovasi: jaket angin bergaya vintage dengan lapisan penyembuh diri, dipadukan dengan celana jeans distress cetak 3D dan tas selempang bertenaga surya. "Streetwear selalu mencerminkan zamannya," kata peramal mode James Wilson. "Di tahun 2025, artinya menghormati masa lalu, hidup di masa kini, dan melindungi masa depan—semuanya tanpa mengorbankan sedikit pun gaya." Dengan minat pencarian yang mencapai puncak dan permintaan konsumen yang tak berkurang, tiga kekuatan kombinasi kenyamanan, nostalgia, dan keberlanjutan ini bukan sekadar tren—melainkan fondasi baru streetwear.